Posted in Pariwisata by Redaksi on Januari 17th, 2010
OLeh: Drs Ads Franse Sihombing, Wartawan SIB
‘GA NIET STERVEN VOOR DAT JE HET TOBA MEER HEB GEZIEN..’ Kalimat berbahasa Belanda itu ternyata masih rutin terdengar di negeri itu, khususnya dalam setiap berbagai forum atau pertemuan atau minimal wicara tentang pariwisata, terutama dalam setiap topic dan rencana perjalanan pelancongan ke Indonesia.
Arti kalimat itu adalah: “Jangan mati sebelum injak Danau Toba walau sekali sajapun….”
“Pesan itu akhirnya menjadi semacam semboyan yang masih terus dilontarkan kalau ada rencana paket kunjungan wisata ke Indonesia, khususnya dalam pilihan paket wisata ke Pulau Sumatera. Ada sejarah tersendiri yang membuat Danau Toba cukup popular di Belanda. Sehingga potret atau foto Danau Toba yang khas dengan gambaran pulau Samosir di atasnya, banyak diabaikan di rumah-rumah warga Belanda, walaupun foto itu cuma berupa guntingan dari brosur atau leaflet saja”, ujar Essie Gultom (40 tahun), seorang wanita cantik aktivis LSM asal Belanda yang beberapa tahun lalu sudah menjadi warga negara Indonesia setelah dipersunting pemuda Batak marga Lumbanraja.
Dia mengutarakan hal itu kepada pers di sela-sela diskusi khusus wacana pembentukan badan otorita Danau Toba, yang mengangkat topik dan pasal demi pasal dari draf Peraturan Presiden tentang Penataan Kawasan Wisata dan Lingkungan Danau Toba, yang disosialisasi melalui Badan Kordinasi Pelestarian Ekosistem Danau Toba (BKP-EDT) di kantor LSM Save The Tao, Medan, Jumat (15/1).
Hadir pada acara itu antara lain kordinator Forum Masyarakat Peduli Danau Toba (FM-PDT) Sumut Mangaliat Simarmata SH, konsultan pariwisata Ir Jonathan Ikuten Tarigan, Parlin Manihuruk, Ir Raya Timbul Manurung dari IMT-GT Sumut, Maranti Tobing dari PHRI Samosir, dll.
Salah satu pernyataan prihatin yang menjadi semacam resume diskusi itu adalah realita yang terasumsi sebagai tindak diskriminasi terhadap objek wisata Danau Toba selama ini. Soalnya, sejumlah negara luar ternyata hingga kini masih tetap menominasikan Danau Toba sebagai salah satu objek wisata pilihan mancanegaranya. Wajar kalau objek wisata andalan Sumut itu kemudian popular di sana. Sementara di sini, di negeri sendiri, Danau Toba dinilai banyak orang, termasuk kalangan pariwisata, sebagai objek primadona yang justru diabaikan, dan terabaikan…
TEKAD DALAM CITRA
Kalimat atau pesan,…’GA NIET STERVEN VOOR DAT JE HET TOBA MEER HEB GEZIEN..’ itu, sadar atau tidak, menunjukkan adanya suatu tekad yang perlu atau harus diwujudkan pada akhirnya, yaitu dengan realisasi mengunjungi Danau Toba sebelum (maaf…) ajal tiba. Kalau begitu, betapa hebatnya citra Canau Toba dengan marwah alami dan kisah historinya itu.
“Sejak umur empat tahun saya sudah dengar popularitas Danau Toba, dari para tetangga maupun dari orang-orang sekitar yang memang gemar pelesiran (melancong, piknik). Orang-orang bilang ‘jangan mati sebelum injak atau kunjungi Danau Toba, membuat saya penasaran 30 tahun lebih. Dan saya memang terkesima ketika bisa menyaksikannya sekarang. Indah luar biasa…dan hawanya sejuk, pantaslah digemari orang-orang Eropa setiap musim panas di sana (Belanda). Hanya saja, bayangan saya sedikit meleset karena tidak seramai yang saya bayangkan…”, ujar Essie, yang kini sudah resmi menjadi ‘Boru Gultom’, dan menjadi saudari (ito) Muchtar Pakpahan, tokoh buruh Indonesia itu.
Keinginan melihat langsung dengan mata kepala sendiri, Danau Toba yang disebutkan bagian dari tanah kelahirannya, plus gencarnya promosi keindahan objek wisata utama di pulau Sumatera itu sehingga semboyan atau motto masih dan ternyata terus populer di negerinya, menjadi alasan bagi Essie, pada akhir tahun 2004 lalu berangkat dari Belanda, menuju Indonesia. Hanya saja, mungkin tak perlu diungkap di sini, apakah Essie akhirnya menetap di Indonesia sembari menyandang salah satu marga Toba karena kekagumannya terhadap Danau Toba, atau karena akhirnya jatuh cinta dengan pemuda Toba bernama Sahat Lumbanraja.
Hal yang perlu diungkap adalah fakta pendukung bahwa Danau Toba hingga kini memang masih terus populer di Belanda, atau kawasan Eropa pada umumnya, plus di sejumlah negara lainnya. Mantan Direktur PT Avia Interlinear Tour & Travel yang sejak 1970-1990-an lalu aktif memandu kalangan wisatawan Eropa ke Sumut melalui berbagai paket wisata budaya dan ekorisme, mengakui apa yang dibilang Essie, bahwa nama Danau Toba…dan Berastagi di Tanah Karo … memang tak bisa lepas dari memori warga Belanda.
Ungkapan serupa juga dicetuskan Jonathan Ikuten Tarigan. Bahkan terkesan dengan nada ekstrim dan radikal dia bilang, pemerintah Indonesia mulai dari tingkat pusat hingga daerah (propinsi dan kabupaten-kabupaten di sekitar Danau Toba), jadi terkesan ‘tak tahu malu’ karena tampak membiarkan Danau Toba terabaikan begitu saja dinegeri sendiri, padahal dia diagung-agungkan secara populer di luar negeri.
“Citra Danau Toba sebagai salah satu situs dunia yang sekelas dengan objek wisata Yellowstone di Amerika Serikat itu, seharusnya menumbuhkan tekad kita agar Danau Toba ini tercatat resmi menjadi warisan dunia melalui divisi khusus di PBB, seperti Yellowstone itu. Ini sungguh ironis, kita (Danau Toba) sudah dapat status atau citra sebagai situs dunia, tapi kok tidak di-follow-up masuk registrasi. Seharusnya kita malu, Danau Toba itu seakan kita biarkan sebagai kubangan teronggok begitu saja, sehingga banyak orang bilang kini menjadi ‘jamban raksasa’ saja”, katanya prihatin.
Untuk ini, menurut anggota DPRD Sumut Sopar Siburian SH SpN dari komisi yang antara lain membidangi pariwisata, menegaskan perlunya kebijakan khusus dari pemerintah mulai tingkat pusat hingga daerah (propinsi dan lintas kabupaten) untuk menetapkan posisi Danau Toba sebagai objek wisata yang representatif di mata wisata dunia.
“Idealnya Danau Toba ini harus pula dijadikan sebagai profil gapura wisata Indonesia bagian barat. Proyeksi garis lurus menunjukkan Parapat atau Danau Toba ini bisa akses langsung ke negara-negara sumber wisatawan mancanegara, baik dari Eropa, Timur Tengah, apalagi Asia atau ASEAN. Kita memang sangat bangga karena Danau Toba lebih populer di luar negeri seperti Belanda dibanding di Indonesia sendiri”, katanya kepada SIB, setelah kembali dari perjalanan wisatanya ke Turki, belum lama ini.
Bahkan, disela-sela acara penandatanganan naskah kerja sama (MoU) tentang sistem reservasi online pariwisata IMT-GT antara Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sumut dengan Standar Online Tourism Architecture (SOTA) Malaysia di Tiara Convention, Jumat petang (15/1) kemarin, Direktur Eksekutif BPPD Sumut Arthur Batubara MSc juga membenarkan dan menegaskan bahwa sejumlah tour operator asing di berbagai negara luar juga mencantumkan objek wisata Danau Toba sebagai salah satu destinasi pilihan, selain pulau Bali.
OTORIOTA DANAU TOBA, KAPAN…?
Konon, popularitas wisata Danau Toba di Belanda bermula dari kunjungan rombongan Ratu Wilhelmina pada tahun 1940-an silam. (Namun, belum diperoleh catatan atau data resmi apakah kunjungan itu berlangsung sebelum atau sesudah Agresi Belanda di Indonesia pada Desember 1948, yang antara lain mengakibatkan Presiden RI Soekarno saat itu diasingkan ke Parapat). Tapi, yang jelas, banyak pihak mengakui Danau Toba memang populer di Belanda hingga kini sehingga turis asal Belanda ke Sumut masih tetap mendominasi pelancong asing asal Eropa.
Itulah sebabnya, ujar Sopar sang putra Parlilitan Humbang Hasundutan, ingin agar Danau Toba kelak benar-benar ‘hidup’ dalam arti sebenarnya sebagai objek wisata yang bernilai ekonomi dari semua elemen potensinya, baik potensi budaya, potensi sejarah, potensi lingkungan hidup, potensi bahan dsb yang terkandung alami dan abadi para objek wisata Danau Toba. Apalah melalui konsep kebijakan otorita, atau sistem semacamnya.
Salah satu konsepnya, menurut Sopar, adalah penataan dan pengelolaan objek-objek instrumental lintas Danau Toba oleh daerah masing-masing. Misalnya, daerah Humbang menata dan menjual objek wisata Danau Toba yang ada di bagian atau kawasan Sipinsur (10 kilometer dari Lintong Nihuta), yang panoramanya luar biasa karena bisa menatap sebagian besar kawasan pantai Danau Toba dari ketinggian 1.200 meter diatas permukaan laut, plus sambil rileks main layang-layang atau menikmati penganan hangat khas Batak seperti ombus-ombus atau jagung bakar di bukit itu.
Lalu, Samosir bisa menata dan menjual pantai Tomoknya sebagai dermaga halte wisata, atau Onan Runggu sebagai objek panorama ujung pulau Samosir. Sehingga Samosir tak hanya dikenal dengan Pantai Tomok atau Tuktuk dan Simanindo serta Pangururannya saja. Simalungun mungkin bisa ekspansi menjual Bukit Simarjarunjung atau Bukit Tanjung Unta yang dulu pernah dicanangkan Bupati Djabanten Damanik sebagai ‘ring road-nya’ wisata Danau Toba di Simalungun selain Parapatnya. Tapanuli Utara bisa kembangkan Pantai Muara sebagai pusat wisata tirta misalnya untuk lomba speed boat kelas internasional. Tobasa secara khusus kembangkan potensi Bandara Sibisa sebagai distribution of point (dop) para turis dari manapun yang akan ke Danau Toba, selain upaya pengembangan Pantai Binanga Lom atau Pasar Tradisionil di Pantai Ajibata. Lalu, Dairi bisa kembangkan objek wisata Silalahi di Paropo sebagai pusat penikmatan ikan pora-pora yang nyaris punah, plus Tanah Karo bisa kembangkan objek wisata Tongging menjadi pusat wisata ketangkasan olahraga udara, misalnya terbang layang (gantole), lompat tebing (bungy), dsb sehingga tak hanya sebagai objek panorama saja seperti selama ini.
Hal senada juga disebutkan Mangaliat Simarmata, bahwa konsep penataan wisata secara intrumental lintas daerah itu hanya bisa diwujudkan melalui kebijakan otorita. Paling tidak, hal itu akan menghindari tradisi buang badan atau lepas tangan dari setiap kepala daerah kawasan Danau Toba, dengan masing-masing dalih atau alasan sektoralnya, seperti yang terjadi selama ini.
“Kita sempat semangat, ketika beberapa tahun lalu sudah muncul semangat untuk membentuk badan atau kebijakan otoritas untuk pembangunan wisata Danau Toba itu. Tapi sekaligus saya pun sedih karena potensi dan prospek Danau Toba masih begini-begini saja terus, apalagi pemerintah kita, mulai dari tingkat pusat sampai propinsi dan kabupaten, selama ini cuma bisa janji-janji sehingga turis yang datang segitu-segitu saja terus…Niat dan semangat itu tidak dibarengi tekad, sehingga kita tak tahu, kapan otorita Danau Toba itu terwujud”, papar Mangaliat dengan nada prihatin, sembari nyaris menangis di hadapan 60-an peserta rapat dan diskusi ‘Save the Tao’, belum lama ini. (M9/c)
Sabtu, 30 Januari 2010
President Békés County, Republik Hungaria kunjungi Samosir
THURSDAY, 07 JANUARY 2010 21:33
Ragam - Pariwisata
ERIN STELLA BUTARBUTAR
WASPADA ONLINE
MEDAN - Setelah penandatanganan Memorandum Of Understanding (MoU) antara Provinsi Sumatera Utara, Republik Indonesia dengan Békés Country, Republik Hungaria yang berlangsung kemarin (06/01/10) di Kantor Gubernur Sumatera Utara, dalam rangka Sister Province (Provinsi Bersaudara) atau kerjasama antara 2 provinsi, hari ini Kamis (07/01/2010) Gubernur Békés Hungaria dan rombongan akan mengunjungi Samosir.
President of Békés County, the Republic of Hungary, Domokos Lá'selo yang didamping Duta Besar Indonesia untuk Hungaria, Mangasi Sihombing beserta 30 orang rombongan tiba di Medan dan disambut oleh Gubernur Sumatera Utara, Syamsul Arifin dijadwalkan akan mengunjungi beberapa daerah di Sumatera Utara.
Kunjungan lapangan ( Field trip) ini akan dimulai dengan mengunjungi Tanjung Balai, dilanjutkan dengan perjalanan ke Samosir. “ Mereka akan disambut oleh Bupati Samosir, Mangindar Simbolon, dan akan menginap di Hotel Toledo,” terang Kadis Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Samosir, M. Butarbutar kepada Waspada Online.
Diharapkan dengan kunjungan ini, kerjasama yang terdapat dalam Mou tersebut antara lain Culture and tourism dan 6 kerjasama lainnya akan terlaksana dengan baik dan mempererat kerjasama antara Sister Province ini. Rombongan akan melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Karo pada esok hari dan kembali kenegaranya hari Sabtu (09/01/10).
Ragam - Pariwisata
ERIN STELLA BUTARBUTAR
WASPADA ONLINE
MEDAN - Setelah penandatanganan Memorandum Of Understanding (MoU) antara Provinsi Sumatera Utara, Republik Indonesia dengan Békés Country, Republik Hungaria yang berlangsung kemarin (06/01/10) di Kantor Gubernur Sumatera Utara, dalam rangka Sister Province (Provinsi Bersaudara) atau kerjasama antara 2 provinsi, hari ini Kamis (07/01/2010) Gubernur Békés Hungaria dan rombongan akan mengunjungi Samosir.
President of Békés County, the Republic of Hungary, Domokos Lá'selo yang didamping Duta Besar Indonesia untuk Hungaria, Mangasi Sihombing beserta 30 orang rombongan tiba di Medan dan disambut oleh Gubernur Sumatera Utara, Syamsul Arifin dijadwalkan akan mengunjungi beberapa daerah di Sumatera Utara.
Kunjungan lapangan ( Field trip) ini akan dimulai dengan mengunjungi Tanjung Balai, dilanjutkan dengan perjalanan ke Samosir. “ Mereka akan disambut oleh Bupati Samosir, Mangindar Simbolon, dan akan menginap di Hotel Toledo,” terang Kadis Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Samosir, M. Butarbutar kepada Waspada Online.
Diharapkan dengan kunjungan ini, kerjasama yang terdapat dalam Mou tersebut antara lain Culture and tourism dan 6 kerjasama lainnya akan terlaksana dengan baik dan mempererat kerjasama antara Sister Province ini. Rombongan akan melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Karo pada esok hari dan kembali kenegaranya hari Sabtu (09/01/10).
Proyek drainase di Samosir asal dikerjakan
WEDNESDAY, 13 JANUARY 2010 02:50
Warta - Sumut
WASPADA ONLINE
SAMOSIR - Proyek drainase yang bersumber dari ABPD Propinsi 2009 di Samosir harus ditinjau ulang pekerjaannya, karena tidak sesuai dengan apa yang diharapkan warga, seperti paket proyek pembuatan drainase sepanjang jalan antara Pangururan ke Tomok.
Proyek yang dimaksud berada di desa Sidabagas, kecamatan Pangururan dan baru selesai dikerjakan sekira bulan Desember 2009 ternyata sudah ambruk hanya dengan jangka waktu dua pekan akibat diguyur hujan hanya beberapa jam.
Warga sekitar merasa gerah melihat kualitas proyek yang bersumber dari APBD Provinsi Sumatera Utara. Seperti yang dituturkan, Herbin Sinaga, yang juga pengurus Ormas Indonesia Bisa kabupaten Samosir kepada Waspada, tadi malam.
Warta - Sumut
WASPADA ONLINE
SAMOSIR - Proyek drainase yang bersumber dari ABPD Propinsi 2009 di Samosir harus ditinjau ulang pekerjaannya, karena tidak sesuai dengan apa yang diharapkan warga, seperti paket proyek pembuatan drainase sepanjang jalan antara Pangururan ke Tomok.
Proyek yang dimaksud berada di desa Sidabagas, kecamatan Pangururan dan baru selesai dikerjakan sekira bulan Desember 2009 ternyata sudah ambruk hanya dengan jangka waktu dua pekan akibat diguyur hujan hanya beberapa jam.
Warga sekitar merasa gerah melihat kualitas proyek yang bersumber dari APBD Provinsi Sumatera Utara. Seperti yang dituturkan, Herbin Sinaga, yang juga pengurus Ormas Indonesia Bisa kabupaten Samosir kepada Waspada, tadi malam.
2010, Samosir jadi kabupaten pariwisata
THURSDAY, 07 JANUARY 2010 20:34
Ragam - Pariwisata
WASPADA ONLINE
(Blogspot.Com)
MEDAN - Dalam rangka usia ke 6 tahun, kabupaten Samosir mulai berbenah diri mewujudkan visinya untuk menjadi Kabupaten Pariwisata. Sebagaimana dalam Visit Indonesia Year 2009 yang mencantumkan agenda wisata nasional dan pencanangan kembali Sumut sebagai salah satu daerah tujuan wisata unggulan di Indonesia, dan kabupaten Samosir menjagokan Tuktuk Siadong menjadi Daerah Tujuan Wisata (DTW).
“Kabupaten kita masih dalam tahap pembenahan untuk mewujudkan visi tersebut," kata Drs.M. Butarbutar, Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Samosir kepada Waspada Online.
Tahun 2010, kabupaten ini berupaya menjadi Kabupaten Pariwisata, yaitu memfokuskan pembangunan kearah pariwisata tanpa mengabaikan bidang – bidang lain.
Ada 2 hal penting yang dikerjakan Pemerintah Samosir dalam mewujudkan visi tersebut pada tahun ini. "Pertama, HUT ke 6 Kabupaten Samosir yang tidak difokuskan pada satu tempat saja, tetapi tersebar di kecamatan yang ada di Samosir. Ini ditujukan agar masyarakat berpartisipasi langsung dalam acara HUT tersebut. Samosir tidak milik pemerintah saja tetapi masyarakat. Ini sangat baik dalam membangun rasa kepemilikan masyarakat. Kedua, awal tahun ini kabupaten Samosir juga berupaya menggenjot pengembangan sektor pariwisata sehingga dari sektor tersebut diharapkan bisa menjadi penyumbang terbesar pendapatan daerah. Selain itu berupaya mengembangkan bidang- bidang lain uang berkaitan, seperti berupaya memperbaiki pelabuhan-pelabuhan sehingga frekwensi menuju Samosir juga semakin meningkat," paparnya.
Untuk mewujudkan semua itu tidak menutup kemungkinan akan timbul permasalahan baru dilapangan seperti kesiapan masyarakat dalam menghadapi kabupaten pariwisata ini. "Meyakinkan masyarakat yang selama ini hidup secara agraris diperlukan waktu yang tidak sedikit. Pendekatan pun harus dilakukan secara bertahap seperti melaksanakan program sadar wisata, dalam bentuk seminar dan diskusi serta arahan hingga terwujud visi Kabupaten Pariwisata," pungkasnya.
Ragam - Pariwisata
WASPADA ONLINE
(Blogspot.Com)
MEDAN - Dalam rangka usia ke 6 tahun, kabupaten Samosir mulai berbenah diri mewujudkan visinya untuk menjadi Kabupaten Pariwisata. Sebagaimana dalam Visit Indonesia Year 2009 yang mencantumkan agenda wisata nasional dan pencanangan kembali Sumut sebagai salah satu daerah tujuan wisata unggulan di Indonesia, dan kabupaten Samosir menjagokan Tuktuk Siadong menjadi Daerah Tujuan Wisata (DTW).
“Kabupaten kita masih dalam tahap pembenahan untuk mewujudkan visi tersebut," kata Drs.M. Butarbutar, Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Samosir kepada Waspada Online.
Tahun 2010, kabupaten ini berupaya menjadi Kabupaten Pariwisata, yaitu memfokuskan pembangunan kearah pariwisata tanpa mengabaikan bidang – bidang lain.
Ada 2 hal penting yang dikerjakan Pemerintah Samosir dalam mewujudkan visi tersebut pada tahun ini. "Pertama, HUT ke 6 Kabupaten Samosir yang tidak difokuskan pada satu tempat saja, tetapi tersebar di kecamatan yang ada di Samosir. Ini ditujukan agar masyarakat berpartisipasi langsung dalam acara HUT tersebut. Samosir tidak milik pemerintah saja tetapi masyarakat. Ini sangat baik dalam membangun rasa kepemilikan masyarakat. Kedua, awal tahun ini kabupaten Samosir juga berupaya menggenjot pengembangan sektor pariwisata sehingga dari sektor tersebut diharapkan bisa menjadi penyumbang terbesar pendapatan daerah. Selain itu berupaya mengembangkan bidang- bidang lain uang berkaitan, seperti berupaya memperbaiki pelabuhan-pelabuhan sehingga frekwensi menuju Samosir juga semakin meningkat," paparnya.
Untuk mewujudkan semua itu tidak menutup kemungkinan akan timbul permasalahan baru dilapangan seperti kesiapan masyarakat dalam menghadapi kabupaten pariwisata ini. "Meyakinkan masyarakat yang selama ini hidup secara agraris diperlukan waktu yang tidak sedikit. Pendekatan pun harus dilakukan secara bertahap seperti melaksanakan program sadar wisata, dalam bentuk seminar dan diskusi serta arahan hingga terwujud visi Kabupaten Pariwisata," pungkasnya.
Penduduk Samosir Bertambah 3.275 Jiwa
Daerah 04-01-2010
*tumpal sijabat
MedanBisnis – Samosir
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir meluncurkan data terbaru kependudukan dan menyerahkan daftar penduduk potensial Pemilukada (DP4) kepada KPUD Samosir beberapa waktu lalu di aula kantor bupati setempat.
Kadis Catatan Sipil Kependudukan Kamar Siboro, Minggu (3/1) mengatakan bahwa sejak Kabupaten Samosir tebentuk tahun 2004 lalu pertambahan penduduk berkisar 3.275 orang dari 132.000 jiwa menjadi 135.560 jiwa. Sementara DP4 Samosir bertambah sekitar 4000 jiwa dari 84.547 menjadi 88.960.
Bupati Samosir Mangindar Simbolon mengungkapkan pertumbuhan jumlah penduduk wajar, yaitu 3.275 jiwa. Pemkab Samosir siap membantu pemutakhiran data kependudukan bersama KPU, agar kedepan tiada lagi masyarakat yang saling menyalahkan. “Pemutakhiran data kependudukan juga sangat penting dalam rangka pembangunan sarana infrastruktur, politik dan pembangunan perekonomian rakyat,” ujar Mangindar.
Ketua KPUD Samosir Megianto Sinaga menyambut baik penyerahan DP4 Pilkada Samosir 2010. “KPU akan segera melakukan pemutakhiran data pemilih untuk ditetapkan menjadi daftar pemilih sementara (DPS). Sesuai dengan UU Nomor 22 Tahun 2007 tentang pemilu bahwa KPU adalah pengguna terakhir data kependudukan,” ujarnya.
Megianto menjelaskan bahwa DP4 adalah acuan dasar penyusunan DPS yang akan ditetapkan 12 Januari 2010. Sementara penetapan DPT adalah 25 Maret 2010. Yang berhak masuk DPS adalah pemilih yang berdomisilih di Samosir 6 bulan sebelum DPS diumumkan.
KPU menyediakan 325 TPS dan maksimal 450 pemilih/TPS. Ditambahkannya calon bupati perseorangan/independent dapat mendaftarkan diri menjadi bakal calon bupati setelah mendapatkan dukungan 6,5% atau 8812 jiwa dari total jumlah penduduk.
Hadir pada acara launching data kependudukan Samosir dan penyerahan DP4 kepada KPUD, Sekda Tigor Simbolon, Asisten I Ombang Siboro, Wakapolres Kompol PG Silaban, anggota KPU Suhadi situmorang, Fernando Sitanggang, Oloan Simbolon, para kepala dinas dan para camat.
*tumpal sijabat
MedanBisnis – Samosir
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir meluncurkan data terbaru kependudukan dan menyerahkan daftar penduduk potensial Pemilukada (DP4) kepada KPUD Samosir beberapa waktu lalu di aula kantor bupati setempat.
Kadis Catatan Sipil Kependudukan Kamar Siboro, Minggu (3/1) mengatakan bahwa sejak Kabupaten Samosir tebentuk tahun 2004 lalu pertambahan penduduk berkisar 3.275 orang dari 132.000 jiwa menjadi 135.560 jiwa. Sementara DP4 Samosir bertambah sekitar 4000 jiwa dari 84.547 menjadi 88.960.
Bupati Samosir Mangindar Simbolon mengungkapkan pertumbuhan jumlah penduduk wajar, yaitu 3.275 jiwa. Pemkab Samosir siap membantu pemutakhiran data kependudukan bersama KPU, agar kedepan tiada lagi masyarakat yang saling menyalahkan. “Pemutakhiran data kependudukan juga sangat penting dalam rangka pembangunan sarana infrastruktur, politik dan pembangunan perekonomian rakyat,” ujar Mangindar.
Ketua KPUD Samosir Megianto Sinaga menyambut baik penyerahan DP4 Pilkada Samosir 2010. “KPU akan segera melakukan pemutakhiran data pemilih untuk ditetapkan menjadi daftar pemilih sementara (DPS). Sesuai dengan UU Nomor 22 Tahun 2007 tentang pemilu bahwa KPU adalah pengguna terakhir data kependudukan,” ujarnya.
Megianto menjelaskan bahwa DP4 adalah acuan dasar penyusunan DPS yang akan ditetapkan 12 Januari 2010. Sementara penetapan DPT adalah 25 Maret 2010. Yang berhak masuk DPS adalah pemilih yang berdomisilih di Samosir 6 bulan sebelum DPS diumumkan.
KPU menyediakan 325 TPS dan maksimal 450 pemilih/TPS. Ditambahkannya calon bupati perseorangan/independent dapat mendaftarkan diri menjadi bakal calon bupati setelah mendapatkan dukungan 6,5% atau 8812 jiwa dari total jumlah penduduk.
Hadir pada acara launching data kependudukan Samosir dan penyerahan DP4 kepada KPUD, Sekda Tigor Simbolon, Asisten I Ombang Siboro, Wakapolres Kompol PG Silaban, anggota KPU Suhadi situmorang, Fernando Sitanggang, Oloan Simbolon, para kepala dinas dan para camat.
Wacana Zona Judi Legal Mulai Bergulir di Samosir
Posted in Berita Utama by Redaksi on Januari 22nd, 2010
Samosir (SIB)
Di sela-sela sepinya nuansa politik jelang Pemilukada Samosir, wacana terbentuknya zona permainan judi legal mulai bergulir. Pemikiran itu terbersit melihat keinginan masyarakat akan permainan judi sangat tinggi.
Kita lihat saja di Samosir. Tidak sedikit warga Samosir yang pergi ke Genting Malaysia sekedar bermain judi. Untuk lapisan masyarakat bawah, pemesan toto gelap terus berlangsung, kata Wakil Ketua DPRD Samosir Joni Sihotang kepada wartawan, Kamis (21/1).
Menurut dia, zona judi ini memang sangat berlawanan dengan program Polri saat ini yang menjadikan judi musuh utama. Namun tidak bisa dipungkiri, praktik judi sekarang sudah berlangsung sembunyi-sembunyi. Hal itu terbukti gencarnya berita di koran penangkapan pelaku judi oleh polisi.
Ini bukan pekerjaan gampang. Bicara agama jelas dilarang namun prakteknya, pelaku judi itu semua mengklaim dirinya beragama sesuai KTPnya. Bicara hukum juga dilarang. Tapi menurut saya masih ada celah karena dalam KUHP pasal 303 ada berbunyi melakukan praktek judi tanpa ijin. Nah, kalau kita cermati kita masig punya peluang mengurus ijin agar judi itu legal, papar Joni.
Selain itu, menurut Joni yang juga ketua KNPI Samosir, jika ijin pengelolaan judi legal bisa ditembus akan mendatangkan ‘multi player effect’ bagi dunia bisnis dan pariwisata. Secara bertahap jenis-jenis bisnis lain yang mendukung zona judi legal itu akan berjalan.
Pasti hotel dan restoran akan bangkit. Dunia hiburan akan mulai bergeliat. Hal-hal diatas sangat mendukung konsep Samosir menjadi Kabupaten Pariwisata. Peluang penyerapan tenaga kerja juga akan bertambah sangat signifikan, tambah Joni.
Namun dia menyadari upaya menjadikan zona judi legal di Samosir bukan pekerjaan mudah. Kendala pertama akan datang dari agama, hukum, tokoh masyarakat, pemuda sampai kepada pers.
Kenapa uang rakyat Indonesia harus terbuang dengan hitungan triliun rupiah ke Genting Malaysia jika kita mampu mengelolanya di negeri sendiri. Saya yakin hukum di Malaysia juga melarang judi jika tanpa ijin. Dan zonasi judi ini kelak harus diatur agar tidak sembarangan orang bisa masuk. Hanya yang punya modal besar yang dapat bermain, ungkapnya. (T12)
Samosir (SIB)
Di sela-sela sepinya nuansa politik jelang Pemilukada Samosir, wacana terbentuknya zona permainan judi legal mulai bergulir. Pemikiran itu terbersit melihat keinginan masyarakat akan permainan judi sangat tinggi.
Kita lihat saja di Samosir. Tidak sedikit warga Samosir yang pergi ke Genting Malaysia sekedar bermain judi. Untuk lapisan masyarakat bawah, pemesan toto gelap terus berlangsung, kata Wakil Ketua DPRD Samosir Joni Sihotang kepada wartawan, Kamis (21/1).
Menurut dia, zona judi ini memang sangat berlawanan dengan program Polri saat ini yang menjadikan judi musuh utama. Namun tidak bisa dipungkiri, praktik judi sekarang sudah berlangsung sembunyi-sembunyi. Hal itu terbukti gencarnya berita di koran penangkapan pelaku judi oleh polisi.
Ini bukan pekerjaan gampang. Bicara agama jelas dilarang namun prakteknya, pelaku judi itu semua mengklaim dirinya beragama sesuai KTPnya. Bicara hukum juga dilarang. Tapi menurut saya masih ada celah karena dalam KUHP pasal 303 ada berbunyi melakukan praktek judi tanpa ijin. Nah, kalau kita cermati kita masig punya peluang mengurus ijin agar judi itu legal, papar Joni.
Selain itu, menurut Joni yang juga ketua KNPI Samosir, jika ijin pengelolaan judi legal bisa ditembus akan mendatangkan ‘multi player effect’ bagi dunia bisnis dan pariwisata. Secara bertahap jenis-jenis bisnis lain yang mendukung zona judi legal itu akan berjalan.
Pasti hotel dan restoran akan bangkit. Dunia hiburan akan mulai bergeliat. Hal-hal diatas sangat mendukung konsep Samosir menjadi Kabupaten Pariwisata. Peluang penyerapan tenaga kerja juga akan bertambah sangat signifikan, tambah Joni.
Namun dia menyadari upaya menjadikan zona judi legal di Samosir bukan pekerjaan mudah. Kendala pertama akan datang dari agama, hukum, tokoh masyarakat, pemuda sampai kepada pers.
Kenapa uang rakyat Indonesia harus terbuang dengan hitungan triliun rupiah ke Genting Malaysia jika kita mampu mengelolanya di negeri sendiri. Saya yakin hukum di Malaysia juga melarang judi jika tanpa ijin. Dan zonasi judi ini kelak harus diatur agar tidak sembarangan orang bisa masuk. Hanya yang punya modal besar yang dapat bermain, ungkapnya. (T12)
Peringatan Hari Jadi ke-6 Kabupaten Samosir Diwarnai Dukungan dan Kritikan
Posted in Marsipature Hutanabe by Redaksi on Januari 10th, 2010
Samosir (SIB)
Peringatan hari jadi ke-6 Kabupaten Samosir, Kamis (7/1), diwarnai kata sambutan berisi dukungan dan kritikan. Kejadian itu ditengarai karena tahun 2010 ini, Samosir akan menggelar pesta demokrasi untuk memilih Bupati dan wakil Bupati baru.
Salah seorang tokoh masyarakat Op Manatap Simbolon dengan tegas mengatakan pembangunan di Samosir sudah berjalan baik. Dia mencontohkan, ruas jalan Tele-Pangururan sudah lebar serta terusan Tano Ponggol sudah diperlebar. “Apakah itu bukan merupakan pembangunan,” seru Op Manatap.
Kritikan datang dari pemrakarsa Kabupaten Samosir seperti TP Malau. Salah satu pemrakarsa yang terkenal kritis atas pembangunan Kabupaten Samosir ini, seolah menagih janji pembangunan yang sudah dilakukan Pemkab Samosir selama lima tahun terakhir.
Jalan menuju desa-desa masih banyak yang tidak layak. Konsep pariwisata yang didengungkan selama ini masih belum terlihat. Saya pernah membaca di koran ada pembangunan 1001 tangga. Sekarang kita belum tahu sampai sejauh mana perkembangan pembangunan tangga-tangga itu,” kata TP Malau.
Yang menarik, sambutan Manginar Sitanggang mewakili partai politik. Dia meminta semua pihak untuk objektif melihat pembangunan di Kabupaten Samosir. “Marilah kita melihat dengan jernih pembangunan di Samosir ini. Pakailah kacamata yang objektif, bukan memakai kacamata hitam,” kata Manginar.
Manginar menyampaikan banyak hal positif tentang pembangunan di Samosir. Bahkan dia berani menjamin, penerimaan CPNS di Samosir bersih dari uang. Dia mencontohkan, pernah menyodorkan Rp 50 juta kepada Bupati tapi ditolak oleh Bupati Samosir.
Bupati Samosir Mangindar Simbolon menanggapi sambutan para undangan mengatakan semua yang disampaikan itu untuk memperkaya pemahaman bersama tentang pembangunan di Samosir.
Dalam kesempatan itu, Bupati Samosir mengatakan tahun ini RSU Pangururan mendapat bantuan Rp 30 miliar dari pemerintah pusat. Menurut dia, dana-dana pusat yang harus digiring untuk mempercepat pembangunan di Samosir, bukan semata mengharapkan APBD Samosir.
Peringatan hari jadi ke-6 Kabupaten Samosir yang umumnya terdiri dari jajaran PNS di Pemkab Samosir, Kepala Desa, tokoh adat, tokoh agama terlihat kurang menghargai waktu. Hal itu terlihat, sebelum Bupati Samosir menyampaikan kata sambutannya, lebih setengah hadirin dari jajaran PNS sudah meninggalkan tempat.
Puncak peringatan hari jadi Kabupaten Samosir ke-6 diadakan di kantor Bupati Samosir, diawali kebaktian singkat dan upacara kenegaraan. Hadir Bupati Humbahas Maddin Sihombing dan beberapa perwakilan dari Kabupaten tetangga lainnya.
Peringatan hari jadi Kabupaten Samosir kali ini juga dirayakan di sembilan kecamatan. Berikut jadwal pelaksanaan dirgahayu Kabupaten Samosir. Untuk Sianjurmulamula (11/1), Simanindo (12/1), Onan Runggu (13/1), Nainggolan (14/1), Palipi (15/1), Ronggur Nihuta (16/1), Harian (18/1), Pangururan (19/1) dan Sitio-tio (20/1).(T12/d)
Samosir (SIB)
Peringatan hari jadi ke-6 Kabupaten Samosir, Kamis (7/1), diwarnai kata sambutan berisi dukungan dan kritikan. Kejadian itu ditengarai karena tahun 2010 ini, Samosir akan menggelar pesta demokrasi untuk memilih Bupati dan wakil Bupati baru.
Salah seorang tokoh masyarakat Op Manatap Simbolon dengan tegas mengatakan pembangunan di Samosir sudah berjalan baik. Dia mencontohkan, ruas jalan Tele-Pangururan sudah lebar serta terusan Tano Ponggol sudah diperlebar. “Apakah itu bukan merupakan pembangunan,” seru Op Manatap.
Kritikan datang dari pemrakarsa Kabupaten Samosir seperti TP Malau. Salah satu pemrakarsa yang terkenal kritis atas pembangunan Kabupaten Samosir ini, seolah menagih janji pembangunan yang sudah dilakukan Pemkab Samosir selama lima tahun terakhir.
Jalan menuju desa-desa masih banyak yang tidak layak. Konsep pariwisata yang didengungkan selama ini masih belum terlihat. Saya pernah membaca di koran ada pembangunan 1001 tangga. Sekarang kita belum tahu sampai sejauh mana perkembangan pembangunan tangga-tangga itu,” kata TP Malau.
Yang menarik, sambutan Manginar Sitanggang mewakili partai politik. Dia meminta semua pihak untuk objektif melihat pembangunan di Kabupaten Samosir. “Marilah kita melihat dengan jernih pembangunan di Samosir ini. Pakailah kacamata yang objektif, bukan memakai kacamata hitam,” kata Manginar.
Manginar menyampaikan banyak hal positif tentang pembangunan di Samosir. Bahkan dia berani menjamin, penerimaan CPNS di Samosir bersih dari uang. Dia mencontohkan, pernah menyodorkan Rp 50 juta kepada Bupati tapi ditolak oleh Bupati Samosir.
Bupati Samosir Mangindar Simbolon menanggapi sambutan para undangan mengatakan semua yang disampaikan itu untuk memperkaya pemahaman bersama tentang pembangunan di Samosir.
Dalam kesempatan itu, Bupati Samosir mengatakan tahun ini RSU Pangururan mendapat bantuan Rp 30 miliar dari pemerintah pusat. Menurut dia, dana-dana pusat yang harus digiring untuk mempercepat pembangunan di Samosir, bukan semata mengharapkan APBD Samosir.
Peringatan hari jadi ke-6 Kabupaten Samosir yang umumnya terdiri dari jajaran PNS di Pemkab Samosir, Kepala Desa, tokoh adat, tokoh agama terlihat kurang menghargai waktu. Hal itu terlihat, sebelum Bupati Samosir menyampaikan kata sambutannya, lebih setengah hadirin dari jajaran PNS sudah meninggalkan tempat.
Puncak peringatan hari jadi Kabupaten Samosir ke-6 diadakan di kantor Bupati Samosir, diawali kebaktian singkat dan upacara kenegaraan. Hadir Bupati Humbahas Maddin Sihombing dan beberapa perwakilan dari Kabupaten tetangga lainnya.
Peringatan hari jadi Kabupaten Samosir kali ini juga dirayakan di sembilan kecamatan. Berikut jadwal pelaksanaan dirgahayu Kabupaten Samosir. Untuk Sianjurmulamula (11/1), Simanindo (12/1), Onan Runggu (13/1), Nainggolan (14/1), Palipi (15/1), Ronggur Nihuta (16/1), Harian (18/1), Pangururan (19/1) dan Sitio-tio (20/1).(T12/d)
Langganan:
Postingan (Atom)