Kamis, 20 Mei 2010

KRB Ultah: Indonesia Perlu 45 Kebon Raya

Selasa, 18 Mei 2010 - 19:16 WIB
| More
KRB Ultah: Indonesia Perlu 45 Kebon Raya

BOGOR (Pos Kota) – Untuk menjaga konservasi dan menyelamatkan keanekaragaman hayati, Indonesia membutuhkan sedikitnya 45 kebun raya. Saat ini, Indonesia hanya baru memiliki empat kebun raya dan 17 kebun raya yang sedang dibangun, sehingga masih kurang sebanyak 23 kebun raya lagi.

Hal ini diungkapkan Wakil Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Lukman Hakim saat menyampaikan sambutan dalam perayaan ulang tahun Kebun Raya Bogor (KRB) ke 193 di areal KRB,Selasa (18/5) pagi.

Saat ini, kata Lukman, sudah ada 21 kebun raya yang tersebar di beberapa Provinsi di Indonesia. Dari ke-21 itu, empat diantaranya di bawah naungan LIPI, sedangkan sisanya dikelola oleh daerah masing-masing.

“Dengan jumlah kebun raya saat ini yang hanya baru dua puluhan, masih belum mencukupi untuk menampung keanekaragaman hayati di Indonesia,” katanya.

Ia mengakui, untuk mewujudkan atau membangun Kebun Raya sesuai dengan kebutuhan akan sangat menyedot dana yang sangat besar. LIPI sendiri katanya, tidak memiliki dana yang memadai untuk membangun semua kebun raya. Untuk itu, katanya, diharapkan adanya bantuan dari pemerintah pusat maupun daerah.

Saat ini katanya, sudah dilakukan kerjasama dengan tiga kabupaten di wilayah Indonesia untuk membangun kebun raya. Ke tiga wiilayah itu adalah Kabupaten Samosir, Lombok Timur dan Kuningan. Bentuk kerjasama dilakukan dengan penandatangan antara LIPI dengan tiga bupati dii wilayah tersebut.

Bupati Samosir, Sumatera Utara, Mangindar Simbolon, mengatakan rencana pembangunan kebun raya di Samosir akan segera dimulai.”Tergetnya selesai 10 tahun ke depan,” katanya.

Dia mengatakan, luas lahan yang akan dijadikan Kebun Raya di tempatnya mencapai 100 hektar dengan dana diperkirakan mencapai Rp 73 miliar. Dia mengatakan untuk pembangunan kebun raya itu bantuan penuh sangat diharapkan dari pihak pemerintah, mengingat tidak mungkin jika mengandalkan dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Samosir.

“APBD kita masih sangat kecil yakni hanya sebesar Rp. 351 miliar tiap tahun. Oleh karena itu, kami membutuhkan bantuan dari yang lainnya, terutama para pengusaha dan LIPI,” katanya.

Sementara itu Bupati Kuningan H Aang Hamid Suganda mengatakan, untuk keperluan pembangunan kebun raya, akan disiapkan lahan seluas 175 hektar. “Areal kebun raya itu terletak di sekitar Gunung Ciremai,” katanya.

Saat ini katanya, sudah ada 55 jenis tumbuhan yang akan mengisi menjadi koleksi kebun raya Kuningan.(yopi/dms)

Selasa, 18 Mei 2010

Mahasiswa Samosir SU Dukung Pasangan Mantap

E-mail
User Rating: / 1
PoorBest
Written by Redaksi Web
Tuesday, 18 May 2010 09:04

Perhimpunan Mahasiswa Samosir Sumatera Utara (Perisai SU) menyatakan dukungan terhadap pasangan calon Bupati-Wakil Bupati Ir Mangindar Simbolon-Ir Mangadap Sinaga (Mantap).


Deklarasi tersebut dilaksanakan di Balai Seraphim Pangururan, Minggu (16/5). Perisai SU juga menyatakan akan menggunakan hak pilih, turut serta menggalang suara serta memilih nomor urut 2 (pasangan Mantap).
Dalam kesempatan tersebut Perisai SU menawarkan kontrak sosial kepada pasangan Mantap, di antaranya mengalokasikan dana APBD untuk pendidikan, memberikan beasiswa bagi putra-putri terbaik Samosir yang hendak kuliah, membangun akses sarana transportasi, menjamin pemerintahan yang bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) serta menjalankan pemerintahan yang berpihak kepada rakyat.


Ketua Badan Pengurus Harian (BPH) Perisai SU Andreas Sihotang mengatakan sebagai mahasiswa Perisai SU harus ambil bagian dan berperan serta dalam Pilkada Samosir 2010 untuk mencari pemimpin yang memiliki komitmen untuk membangun Samosir.


Para mahasiswa menilai bahwa Ir Mangindar Simbolon merupakan sosok pemimpin yang baik dan melihat terjadi perubahan yang signifikan di Samosir selama kepemimpinan Mangindar (2005-2010) serta memperoleh berbagai penghargaan baik se-Sumatera Utara maupun secara Nasional.


Ketua tim Pemenangan pasangan Mantap Manusun Sitanggang mengatakan bahwa terbentuknya Perisai SU berawal saat dianya mengajak beberapa mahasiswa untuk melihat dan menganalisis pembangunan yang telah ada.


Calon Bupati dari Pasangan Mantap Ir Mangindar Simbolon mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberika para mahasiswa tersebut. Ir Mangadap Sinaga berpesan kepada mahasiswa untuk rajin belajar dan seandainya terpilih, Mangadap setiap hari menerima mahasiswa dengan terbuka untuk berdiskusi demi kemajuan Kabupaten Samosir.


Masing-masing koordinator mahasiswa mewakili beberapa perguruan tinggi Sumatera Utara yang memberikan dukungannya, di antaranya Ronal Pasaribu (Pertanian USU), Jayan Tamba (Unimed), Hermanto Simbolon (Hukum UHN), Bosko Sinaga (Dharma Agung), Donggut Simbolon (Unika), Rolin Simalango (Sisingamangaraja), Nover Sinaga (PTKI), Bintang Nadeak (AMIK MBP), Nora Simalango (Medicom), Juan Gultom (ISTTP), Revnaldi Sitinjak (UMA), Roberton Simbolon (Politeknik Unika), Benny Simbolon (UHN Siantar), Darwin Situmorang (ITM), Putra Situmeang (Politeknik USU), Virgo Nainggolan (STMIK Triguna Dharma), Ricki Malau (Institut Pastoral Indonesia)



TETTY NAIBAHO | GLOBAL | SAMOSIR

Minggu, 16 Mei 2010

Kapoldasu: Banjir bandang Samosir akibat ‘illegal logging’

Warta - Kriminal & Pengadilan
SASTROY BANGUN
Redaktur Kriminal & Hukum
WASPADA ONLINE

MEDAN - Kapolda Sumut, Irjen Oegroseno menegaskan, banjir bandang dan longsor yang melanda desa Rassang Bosi dan desa Sabulan, kecamatan Sitio-tio, kabupaten Samosir, Kamis (29/4) lalu, disebabkan karena aksi para perambahan hutan (illegal logging).

“Kuat dugaan kita, penyebab musibah banjir bandang dan longsor di Samosir itu karena hutan daerah itu sudah rusak akibat illegal logging. Karena itu, harus menjadi perhatian serius kita,” tegas Kapolda kepada Waspada Online, Jumat (14/5).

Dikatakan jenderal berbintang dua itu, pemberantasan praktik illegal logging yang sudah jelas sangat meresahkan dan menyusahkan masyarakat, tidak bisa ditawar lagi. Sampai saat ini, tim terpadu masih melakukan penyelidikan di Samosir untuk menjerat pelakunya.Untuk itu, Poldasu akan serius menangani kasus ini dan menindak pelakunya dengan tegas.

Penyebab musibah banjir bandang yang sering terjadi di Sumut, merupakan dampak dari kerusakan hutan. Akibatnya, saat musim penghujan, hutan di daerah sekitarnya tidak mampu menampung curah hujan hingga berpotensi banjir dan tanah lonsor.

“Ya kalau saya lihat itu alamiah. Kalau hutan di daerah tersebut tidak rusak, pasti tidak akan menyebabkan musibah banjir ataupun lonsor,” sebutnya.

Sebelumnya, Poldasu sudah menetapkan tersangka sekaligus menahan kadishut Tobasa, Alden Napitupulu dan kadishut Pakpak Bharat, Sudjarwo karena diduga kuat terlibat dalam praktik illegal logging di daerahnya.

Editor: ANGGRAINI LUBIS
(dat04/wol-mdn)

Banjir Bandang Landa Samosir, Sekeluarga Hilang Terseret Banjir

Posted in Berita Utama by Redaksi on April 30th, 2010

diterjang
Samosir (SIB)
Banjir bandang menerjang dua desa di Kecamatan Sitio-tio Kabupaten Samosir, Kamis (29/4), sekira pukul 20.30 WIB. Di Desa Buntu Mauli Rassang Bosi tujuh rumah warga rusak parah diterjang banjir yang membawa bebatuan dan balok kayu. Lebih tragis, di Desa Sabulan, Lidya Tamba (48) beserta empat anaknya terseret banjir berikut rumah dan seisinya.
Marsaulina Situmorang (15) ditemukan penduduk sekitar sudah meregang nyawa di antara tumpukan bongkahan kayu sekira 300 M dari lokasi rumahnya. Sedangkan ibu korban, Lidya Tamba bersama tiga anaknya Samuel Ando (10), Pegang Hasudungan Situmorang (7), Marintan Situmorang (4) sampai saat ini dinyatakan hilang. Kuat dugaan keempat korban banjir bandang itu tertimbun di bawah bongkahan kayu dan batu yang dibawa banjir.
Satu korban terseret banjir, Halasan Tua Situmorang (13), berhasil selamat dari banjir bandang. Namun, korban dalam keadaan kritis dan segera dilarikan warga ke rumah sakit terdekat. Kakak korban, Juanda Situmorang (17) selamat dari amukan banjir karena tidak berada di rumah saat peristiwa naas itu.
Dari pantauan wartawan, di Buntu Mauli terlihat enam rumah rusak berat dan satu rusak ringan. Warga setempat masih terlihat cemas sembari berupaya menyelamatkan harta bendanya dibantu aparat dari TNI, Kepolisian dan instansi Pemkab Samosir.
Di Desa Sabulan, pencarian korban hilang terus dilakukan di tiga titik lokasi sepanjang sungai Sabulan. Tepat di jembatan, terlihat ketua DPRD Samosir Tongam Sitinjak, Sarochel Tamba, Kadis Kehutanan Rakhman Naibaho dibantu anggota TNI dan warga setempat terus membongkar bongkahan kayu dan batu besar dengan cara manual.
Camat Sitio-tio Mangihut Situmeang kepada wartawan mengatakan, pencarian korban hilang masih terus dilakukan. Namun diakui, pencarian korban sulit karena masih dilakukan sangat sederhana. Ditanya terkait banjir bandang dengan adanya pembalakan liar di hulu sungai, dia belum dapat memastikan.
Saya belum dapat pastikan karena belum melakukan monitoring. Namun saya tidak menyangkal kemungkinan ada atau tidak penebangan liar di sekitar hulu sungai. Sekarang ini masih fokus pada pencarian korban. Bantuan dari tim SAR Propinsi sudah dalam perjalanan kemari, jawab Mangihut.
Suara Banjir Seperti Suara Guruh
Warga sekitar rumah korban terseret banjir bandang di Desa Sabulan Kecamatan Sitiotio mengaku, saat banjir bandang datang diawali suara kuat seperti suara guruh. Suasana mencekam menyelimuti mereka di tengah derasnya hujan malam itu. Kondisi semakin diperburuk dengan padamnya aliran listrik.
Saya juga merasakan rumah kami goyang dan suara begitu kuat datang dari hulu sungai. Saya tidak tahu harus kemana karena saat itu hujan deras dan lampu mati. Saya hanya bisa berdoa dan tidak berani bergerak kemanapun, ujar salah satu Ibu boru Situmorang kepada wartawan.
Pemkab Samosir Beri Bantuan, PT TPL Bantu Rp 40 Juta
Pasca banjir bandang di Kecamatan Sitio-tio, bantuan mulai terlihat mengalir ke Desa Sabulan dan Buntu Mauli. Bantuan berupa sembako dari Pemkab Samosir terlihat diangkut kapal ke dua desa.
Setelah mendapat laporan banjir, beberapa pejabat malam itu juga langsung turun melihat kondisi sebenarnya. Saya baru tiba di lokasi setelah pukul 10.30 WIB, ujar Kabag Humas Pemkab Samosir Gomgom Naibaho. Sekira pukul 12.00, rombongan pejabat teras Pemkab Samosir mulai terlihat di Desa Sabulan. Di antaranya Sekdakab Tigor Simbolon dan jajarannya didampingi Istri Bupati Samosir Ny Artha Simbolon Br Sitinjak. Bantuan kemanusiaan juga secara spontan mengalir dari PT TPL. Perusahaan pulp itu memberikan bantuan beras, minyak goreng, gula, mie instan dan juga selimut satu bal.
“Kami langsung diperintahkan pimpinan untuk menyerahkan bantuan kemanusiaan ini. Totalnya sekira Rp 40 juta. Jika kemungkinan di lokasi masih diperlukan bentuk bantuan lain yang mungkin dapat kami berikan akan kami usahakan,” ujar Sangkan Tampubolon didampingi tim kehumasan TPL seperti Padmin Malau dan Batman Ritonga.
Ditanya kaitan banjir bandang dengan operasional PT TPL di hulu sungai, mereka tidak langsung membela diri. Mereka mengakui di hulu sungai itu memang ada lahan konsesi perusahaan namun sudah tidak ada kegiatan operasi sejak 2008.
Jika ditarik garis lurus, jaraknya sekira 15 Km ke lokasi konsensi perusahaan. Bahkan RKT perusahaan terakhir di sana sejak 2008 lalu. Jadi sejak itu tidak ada lagi penebangan oleh perusahaan, jelas Sangkan.
Ditanya apakah lokasi hutan yang berada di atas Desa Sabulan masih wilayah Pemkab Samosir, sesuai peta mereka wilayah itu bagian dari Kabupaten Humbang Hasundutan yang berbatasan dengan Kecamatan Sitio-tio.
Hal tidak berbeda dikatakan anggota DPRDSU Oloan Simbolon. Dia mengakui, daerah tepat di atas Desa Sabulan dan Buntu Mauli secara hukum sampai saat ini masih belum pasti masuk wilayah Samosir atau Humbahas.
Jadi jika ditanya apakah ada penggundulan hutan di sana dan siapa yang bertanggung jawab, kita harus cari kemana? Kalau kita bilang Humbahas atau Samosir mana dasar hukumnya. Persoalan tapal batas yang belum tuntas kedua daerah itu seharusnya segera diselesaikan. Kepada warga Samosir saya berharap berfokuslah memberikan bantuan semampunya kepada korban. Jangan mau dipolitisir oleh oknum-oknum tertentu terlebih menjelang Pemilukada Samosir. Kita sedang berduka, duka yang dalam, terang Oloan Simbolon.
DPRDSU Desak Gubsu Salurkan Bantuan dan Obat
Kalangan DPRD Sumut mendesak Gubsu H Syamsul Arifin SE segera menyalurkan bantuan, berupa bahan makanan maupun obat-obatan terhadap korban banjir bandang di Desa Buntu Mauli dan Desa Sabulan Kecamatan Sitio-tio Kabupaten Samosir yang mengakibatkan 1 orang warga tewas, 4 orang hanyut ke Danau Toba serta menghancurkan 7 rumah penduduk.
Desakan itu dilontarkan anggota Komisi A DPRD Sumut yang juga anggota dewan Dapil (daerah pemilihan) VIII Wilayah Tapanuli Oloan Simbolon, ST didampingi Asisten I Pemerintahan Pemkab Samosir Drs Ombang Siboro MSi kepada wartawan, Jumat (30/4) di DPRD Sumut menanggapi bencana alam banjir bandang di Kabupaten Samosir.
“Gubsu harus sesegera mungkin menyalurkan bantuan terhadap masyarakat korban banjir bandang di Samosir, baik berupa makanan, obat-obatan, tim SAR guna mencari korban yang hanyut ke Danau Toba, maupun tim medis, demi membantu masyarakat yang sedang ditimpa musibah,” ujar Oloan Simbolon sembari mengungkapkan kesedihan dan keprihatinannya.
Dalam kesempatan itu, Oloan yang juga Ketua DPD PPD (Partai Persatuan Daerah) Sumut ini juga terus bergerak cepat melakukan penggalangan bantuan bagi masyarakat Samosir, dengan mengetuk hati seluruh anggota DPRD Sumut sekaligus berkordinasi dengan pimpinan dewan maupun fraksi agar setiap anggota dewan dipotong honornya pada bulan Mei Rp500.000/orang.
“Memang sudah menjadi kebiasaan bagi anggota DPRD Sumut, setiap ada bencana alam yang menimpa masyarakat, diberikan bantuan ala kadarnya yang dipotong dari honor anggota dewan itu sendiri. Hal ini juga telah dilakukan ketika terjadi bencana alam di Madina maupun Kabupaten Dairi,” tegas anggota F-PPRN ini.
Diakui Oloan, terjadinya bencana alam banjir bandang di Samosir, tidak terlepas dari adanya aksi perambahan kawasan hutan di atas bukit di kedua desa (Desa Buntu Mauli dan Desa Sabulan) yang dilakukan oleh oknum masyarakat, sehingga ketika hujan turun, struktur tanah menjadi labil dan tidak tahan lagi menahan genangan air.
“Yang menjadi persoalan sekarang, lokasi kawasan bencana alam ini tidak jelas apakah masuk wilayah Kabupaten Samosir maupun Kabupaten Humbang Hasundutan, sebab tapal batas kedua wilayah ini hingga kini belum jelas. Karena itu, kita minta Pempropsu segera turun tangan menuntaskan soal tata ruang kedua kabupaten dimaksud,” jelasnya.
Mantan Wakil Ketua DPRD Samosir ini juga mengimbau kepada masyarakat Samosir agar jangan mudah terprovokasi oleh oknum-oknum yang ingin memanfaatkan situasi dengan menghembuskan berbagai macam isu negatif untuk mencari keuntungan pribadi maupun golongan di saat masyarakat sedang berduka atau biasa disebut memancing di air keruh.
“Masyarakat jangan percaya, isu-isu yang menyatakan bahwa terjadinya bencana alam di Samosir diakibatkan oleh pengusaha HPH (hak pengusahaan hutan) di kawasan hutan Register 41 Blok Sitonggi-tonggi. Itu tidak benar, tidak ada kaitannya hutan Register 41 Blok Sitonggi-tonggi dengan bencana di Desa Buntu Mauli dan Sabulan, karena lokasinya sangat berjauhan dan bukan satu bukit,” tegas Oloan.
Dishut Teliti Lokasi Banjir
Sementara itu Kadis Kehutanan Pempropsu Sumut Ir JB Siringoringo setibanya dari Jakarta yang dihubungi SIB melalui telepon terkait banjir tersebut mengatakan, begitu mendengar kabar banjir bandang tersebut pihaknya langsung meneliti lokasi terjadinya banjir dan daerah sungai di

Kakan KB Samosir Terima Penghargaan IBLA 2010

E-mail
User Rating: / 0
PoorBest
Written by Redaksi Web
Thursday, 13 May 2010 07:11

Kepala Kantor (Kakan) Keluarga Berencana (KB) Pemkab Samosir, Drs Emron Turnip menerima penghargaan "International Best Leadership Award 2010", dari IHRDP Jakarta, di The Ballroom Lumire Hotel, Jakarta, pada Jumat (7/5) lalu.


"Sesungguhnya saya terkejut menerima undangan dari IHRDP Jakarta. Saya tidak tahu kapan dinilai karena tidak pernah bertemu langsung dengan mereka di Samosir" ungkap Emron Turnip, di ruang kerjanya, Rabu (12/5).


Setelah pihaknya mengkonfirmasi, IHRDP menjelaskan bahwa mereka menilai berdasarkan wawancara kepada masyarakat, LSM, pers dan sumber lainnya. Emron merupakan satu dari 20 penerima penghargaan itu.


Drs Emron Turnip menjelaskan bahwa maksud dan tujuan pemberian penghargaan tersebut seperti yang diungkapkan Gene Vinsent S selaku Executive Chairman IHRDP adalah sebagai suatu ajang informasi dan komunikasi serta menampilkan peran serta aktif masyarakat yang telah nyata memberikan sumbangan bentuk gagasan inovatif dan karya prestasi dalam mengisi pembangunan bangsa Indonesia.


Lebih lanjut Emron Turnip menjelaskan, bahwa ada 8 kriteria penilaian yang diterapkan oleh IHRDP. Di antaranya memiliki etos kerja yang tinggi, mampu meningkatkan kualitas dan produktivitas SDM, mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia serta memperkuat jati diri dan kepribadiannya.


"Mungkin pihak IHRDP menemukan kriteria tersebut dalam keseharian saya. Saya mengucapkan terima kasih kepada IHRDP. Saya berharap prestasi tersebut dapat lebih ditingkatkan pada masa-masa yangakan datang," harap Turnip yang pada April 2010 yang lalu juga telah menerima penghargaan Silver Award 2010 dari IHRDP.

TETTY NAIBAHO | GLOBAL | SAMOSIR

Poldasu Selidiki Penyebab Banjir Bandang Samosir

E-mail
User Rating: / 0
PoorBest
Written by Redaksi Web
Thursday, 06 May 2010 08:49

Polda Sumut akan menelusuri dan mengungkap penyebab terjadinya banjir bandang yang menewaskan dua warga Desa Rassang Bosi dan Desa Sabulan, Kecamatan Sitio-tio, Kabupaten Samosir pada Kamis (29/4) lalu.
Poldasu akan menurunkan Tim terdiri dari Dinas Kehutanan (Dishut) Sumut dan LSM Walhi. Kerjasama itu dilakukan untuk memastikan apakah praktik illegal logging sebagai penyebabnya.


Karenanya, tim terpadu akan meneliti material banjir, seperti kayu gelondongan yang hanyut apakah merupakan hasil penebangan baru atau lama. "Tim terpadu akan bekerjasama untuk mengetahui apakah kayu gelondongan yang ikut hanyut itu merupakan potongan lama atau baru," kata Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Drs Baharudin Djafar kepada di Medan, Selasa (4/5).


Dikatakannya, bekas potongan kayu akan membuktikan telah terjadinya illegal logging. Jika ditemukan potongan baru, maka ada indikasi telah terjadi praktik perambahan hutan di hulu sungai yang membanjiri kedua desa di Kecamatan Sitio-tio Kabupaten Samosir tersebut.


Sebaliknya, jika potongan lama, maka bisa saja kayu gelondongan itu milik masyarakat. Selain itu, tapal batas wilayah hutan lindung (negara) atau jalur hijau juga menjadi acuan bagi kepolisian untuk menentukan telah terjadinya tindak pidana perambahan hutan. Karena itu, keterlibatan Dishut dalam menyelidiki penyebab banjir itu sangat dibutuhkan.


"Untuk membuktikan banjir bandang itu disebabkan illegal logging membutuhkan waktu, karena tim terpadu harus bekerja meneliti bekas potongan kayu dan batas wilayah hutan yang dilindungi," ujarnya.


Sejauh ini, kata Baharudin, personil Polda Sumut dan Polres Samosir masih terus membantu pemerintah daerah (pemda) setempat melakukan pencarian beberapa orang korban yang belum ditemukan.



DEDI | GLOBAL | MEDAN

Bupati: Tidak Ada Pembalakan Liar di Samosir

Samosir, (Analisa)

Bupati Samosir Mangindar Simbolon, Kamis, siang, menjelaskan perihal bencana banjir di daerahnya. Bencana tepatnya di Desa Buntu Mauli dan Sabulan, Kecamatan Sitiotio, Kamis malam pekan lalu.

Penjelasan Bupati itu saat bersama-sama sejumlah anggota DPRD Sumut asal daerah pemilihan-8 datang menyemangati para korban dan juga penduduk setempat.

Bupati mengatakan, bencana yang menewaskan dua orang plus tiga lainnya masih hilang, serta beberapa rumah rusak dan hanyut itu mestinya tidak perlu menimbulkan korban jiwa sedemikian besar kalau saja dari awal pembangunan permukiman di tepi sungai dihindari untuk mencegah penyempitan daerah aliran sungai (DAS).

Pasca bencana ini, kata Bupati, masyarakat setempat sudah sepakat tidak merusak hutan di hulu sungai. Meskipun, sebenarnya di daerah ini tidak ada pembalakan hutan seperti diinformasikan beberapa elemen masyarakat.

"Pada kesempatan ini kami mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi isu yang tidak benar," kata Bupati.

Bupati juga menjelaskan keberadaan alat berat industri pulp TobaPulp sejak hari Minggu lalu, yakni satu unit excavator, untuk membantu evakuasi para korban serta memperbaiki permukiman yang rusak.

"Saya meminta pihak TobaPulp membantu alat berat beroda besi karena Pemkab hanya memiliki alat berat dengan roda karet sehingga tidak mampu menjangkau lokasi bencana. Ternyata direspon dengan baik. Maka kita terimalah bantuan itu selagi diberikan secara ikhlas", katanya di hadapan masyarakat, disaksikan para anggota DPRD Sumut, di antaranya Oloan Simbolon, Palar Nainggolan, Sopar Siburian, Tahonan Silalahi, Willer Pasaribu dan Rooslinda Marpaung.

Para anggota parlemen provinsi itu kemudian menyampaikan pernyataan dukacita mendalam serta kata-kata penghiburan kepada para korban sambil menyerahkan sumbangan berupa beras tiga ton, air mineral 100 kotak, mi instan 100 kotak serta uang tunai Rp30 juta.

TobaPulp juga menyerahkan alat-alat masak seperti periuk, kuali, piring dan sendok senilai Rp7,6 juta sebagai tambahan atas bantuan sembako sehari setelah bencana, Jumat pekan lalu.

Acara diawali dengan upa-upa (tradisi Batak) kepada seluruh korban bencana oleh Bupati dan segenap anggota Dewan, diikuti Sekda Samosir Ir Saibun Sirait serta seluruh jajaran SKPD Samosir, Wakapolres Kompol P.Silaban dan Pabung Dandim M. Simanjuntak.

Sebelum makan bersama rohaniwan Gereja Pentakosta, Pdt Op. Jimmy Sinaga, menyampaikan jamita (Firman Tuhan), intinya manusia harus selalu ingat kebesaran Tuhan. Karena tiada daya dan upaya tanpa pertolonganNya. Camat Sitiotio, Mangihut Situmorang, kemudian menyampaikan kronologi bencana. (rel/am)